Website toko online vs marketplace bukan soal mana yang lebih baik, tapi soal tahap bisnis Anda. Marketplace seperti Shopee dan Tokopedia memberi pembeli sejak hari pertama, dengan potongan per transaksi yang di 2026 bisa mencapai 10% untuk penjual biasa. Website toko online sendiri butuh modal di depan dan usaha mendatangkan pengunjung, tapi potongannya jauh lebih kecil dan data pelanggan menjadi milik Anda. Kesimpulan saya: mulai dari marketplace, lalu bangun website ketika pembeli yang kembali sudah cukup banyak.
Pertanyaan "potongan marketplace naik lagi, apa saya bikin website sendiri saja?" makin sering terdengar sejak biaya admin naik di 2026. Jawabannya bisa ya, bisa belum. Cara paling jujur untuk menjawabnya adalah dengan menghitung.
Ringkasan: website toko online vs marketplace
| Aspek | Marketplace (Shopee, Tokopedia, TikTok Shop) | Website toko online sendiri |
|---|---|---|
| Modal awal | Hampir nol, cukup daftar dan unggah produk | Biaya pembuatan, misalnya paket kami Rp 15.900.000 |
| Potongan per transaksi | Biaya admin 2,5% sampai 10% (penjual non-Mall), ditambah biaya lain sesuai program | Biaya payment gateway, untuk QRIS 0% sampai 0,7% tergantung nominal dan jenis usaha |
| Sumber pembeli | Sudah ada, dari pencarian di dalam marketplace | Harus Anda datangkan sendiri: Google, iklan, media sosial, pelanggan lama |
| Data pelanggan | Terbatas, aturan komunikasi ditentukan platform | Milik Anda sepenuhnya |
| Kontrol tampilan dan aturan | Mengikuti aturan platform yang bisa berubah kapan saja | Anda yang menentukan |
| Persaingan di halaman yang sama | Produk pesaing tampil tepat di sebelah produk Anda | Tidak ada pesaing di halaman Anda |
Biaya berjualan di marketplace tahun 2026
Angka di bawah saya ambil dari pengumuman resmi masing-masing platform dan rangkuman yang terbit setelahnya, per Oktober 2026. Tarif berubah cukup sering, jadi selalu cek ulang di Seller Center sebelum menghitung.
Shopee
Sejak 1 Agustus 2026, penjual Non-Star di Shopee dikenakan biaya administrasi antara 2,5% sampai 10% dari harga setelah diskon yang ditanggung penjual, tergantung kategori produk. Di luar itu ada biaya proses pesanan Rp 1.250 per pesanan yang selesai, dan biaya layanan tambahan kalau Anda ikut program seperti gratis ongkir atau cashback. Penjual Shopee Mall punya tarif sendiri dan biaya pembayaran 1,8%.
Tokopedia dan TikTok Shop
Tokopedia dan TikTok Shop kini dikelola lewat Seller Center yang sama. Sejak 18 Mei 2026, komisi platform untuk penjual non-Mall berada di kisaran 2,5% sampai 10% per kategori, dan untuk Mall bisa sampai 12,2%. Batas maksimum komisi per barang juga naik menjadi Rp 650.000, yang terasa sekali untuk penjual barang mahal seperti elektronik.
Biaya yang tidak tertulis di tabel tarif
Ada juga biaya yang tidak muncul sebagai persentase: iklan di dalam marketplace supaya produk tidak tenggelam, voucher yang Anda tanggung, dan waktu untuk membalas chat dengan standar kecepatan yang ditentukan platform. Banyak penjual baru sadar ini setelah melihat laporan bulanan.
Biaya punya website toko online sendiri
Di website sendiri, potongan per transaksi datang dari penyedia pembayaran. Untuk QRIS, Bank Indonesia menetapkan biaya MDR mulai 1 Oktober 2026 sebagai berikut: 0% untuk semua jenis usaha pada transaksi sampai Rp 100.000, 0% untuk usaha mikro sampai Rp 500.000 (di atasnya 0,3%), dan 0,7% untuk usaha kecil, menengah, dan besar di atas Rp 100.000. Payment gateway yang Anda pakai bisa menambahkan biaya layanannya sendiri, jadi baca tarif penyedianya.
Biaya lainnya bersifat tetap:
- Pembuatan. Paket toko online di Store KSATRIA berharga Rp 15.900.000 (normal Rp 18.500.000). Isinya katalog, keranjang, checkout, pembayaran QRIS dan transfer bank, ongkir otomatis, serta dashboard untuk mengelola pesanan dan stok. Estimasi pengerjaan 4 sampai 6 pekan.
- Domain dan hosting. Biaya tahunan yang relatif kecil, tapi wajib diperpanjang tepat waktu.
- Perawatan. Update keamanan, backup, dan perbaikan kecil. Bisa dikerjakan sendiri kalau ada tim, atau lewat paket maintenance kami Rp 1.750.000 per bulan.
- Mendatangkan pengunjung. Ini biaya terbesar yang sering dilupakan. Website tidak punya pembeli bawaan. Anda perlu SEO, iklan, atau basis pelanggan yang sudah ada.
Hitungan sederhana: kapan website balik modal
Misalnya Anda menjual sepatu dengan harga rata-rata Rp 200.000 per pasang, di kategori yang kena biaya admin 10% di marketplace.
- Di marketplace: biaya admin Rp 20.000 ditambah biaya proses Rp 1.250, total sekitar Rp 21.250 per pesanan, belum termasuk program dan iklan.
- Di website sendiri dengan QRIS, sebagai usaha kecil: MDR 0,7% dari Rp 200.000, yaitu Rp 1.400 per pesanan, ditambah biaya layanan payment gateway kalau ada.
Selisihnya sekitar Rp 19.850 per pesanan. Kalau biaya pembuatan Rp 15.900.000 dibagi selisih itu, website balik modal setelah kira-kira 800 pesanan yang masuk lewat website. Itu kalau pembelinya datang sendiri. Kalau Anda harus membayar iklan untuk setiap pesanan, hitungannya berubah, dan bisa jadi marketplace tetap lebih murah.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting dari "berapa potongannya" adalah "berapa pembeli saya yang beli lagi?". Pelanggan yang kembali bisa diarahkan ke website lewat kartu ucapan di paket, WhatsApp, atau email. Mereka tidak perlu dibayar iklannya lagi.
Kapan marketplace lebih tepat
- Anda baru mulai dan belum tahu produk mana yang laku.
- Produk Anda adalah barang yang orang cari dengan membandingkan harga, misalnya aksesori HP atau kebutuhan rumah tangga.
- Anda belum punya tim atau waktu untuk mengurus pemasaran di luar marketplace.
- Pesanan Anda masih sedikit, sehingga selisih potongan belum sebanding dengan biaya website.
Kapan website toko online lebih tepat
- Sudah ada pelanggan yang membeli berulang dan mengenal merek Anda.
- Produk Anda punya cerita atau keunikan yang sulit ditampilkan di halaman marketplace yang seragam.
- Anda menjual ke pembeli bisnis yang butuh invoice, harga grosir, atau syarat pembayaran khusus.
- Potongan marketplace sudah memakan porsi besar dari margin Anda setiap bulan.
- Anda ingin membangun daftar pelanggan sendiri yang tidak hilang kalau aturan platform berubah.
Pilihan ketiga: jalankan keduanya
Ini yang paling sering saya sarankan. Marketplace menjadi etalase untuk pembeli baru, website menjadi rumah untuk pelanggan setia, pembelian grosir, dan produk edisi terbatas. Stok perlu disinkronkan supaya tidak terjual dua kali, dan ini bisa diatur di dashboard admin website atau lewat integrasi yang disesuaikan.
Kalau anggaran belum cukup untuk toko online lengkap, mulai dari yang lebih kecil. Landing page dengan katalog singkat dan tombol pesan WhatsApp (di Store kami Rp 3.500.000) sudah cukup untuk menguji apakah pelanggan mau membeli di luar marketplace.
Satu catatan kecil soal pilihan platform website: Anda bisa membangun toko sendiri dengan layanan seperti Shopify atau Wix, atau dibuat oleh developer. Kelebihan dan kekurangan masing-masing sudah saya bahas di alternatif Wix dan Shopify untuk bisnis Indonesia.
Kesalahan yang sering terjadi saat pindah ke website sendiri
Beberapa pola ini cukup sering muncul, dan semuanya bisa dihindari kalau disadari dari awal.
Menutup toko marketplace terlalu cepat
Begitu website jadi, ada godaan untuk langsung meninggalkan marketplace karena kesal dengan potongannya. Hasilnya, omzet turun drastis di bulan-bulan pertama karena pembeli baru tidak tahu website Anda ada. Lebih aman menjalankan keduanya dulu, lalu pelan-pelan arahkan pelanggan lama ke website dengan alasan yang jelas buat mereka, misalnya harga sedikit lebih baik atau bonus kecil.
Menganggap Google akan langsung mengirim pembeli
Website baru butuh waktu untuk muncul di hasil pencarian, apalagi untuk kata kunci produk yang ramai seperti "sepatu running". Kata kunci yang lebih spesifik, misalnya nama merek Anda sendiri atau jenis produk yang khas, biasanya lebih cepat menghasilkan. Selama menunggu, iklan dan media sosial yang mengisi celahnya.
Checkout yang terlalu panjang
Pembeli Indonesia sudah terbiasa dengan checkout marketplace yang cepat. Kalau di website mereka harus membuat akun, mengisi sepuluh kolom, lalu transfer manual dan mengirim bukti lewat WhatsApp, banyak yang berhenti di tengah. QRIS dan ongkir yang langsung terhitung di halaman checkout membuat perbedaan besar.
Lupa mengurus pelanggan setelah transaksi
Keunggulan terbesar website adalah hubungan langsung dengan pembeli. Kalau setelah pesanan pertama tidak ada kabar apa pun dari toko, keunggulan itu hilang. Konfirmasi pesanan yang jelas, nomor resi yang mudah dilacak, dan pesan singkat saat ada produk baru sudah cukup untuk membuat pelanggan kembali.
Yang perlu disiapkan sebelum membuat website toko online
- Foto dan deskripsi produk sendiri. Jangan menyalin dari marketplace, terutama kalau ingin muncul di Google.
- Kebijakan pengiriman dan retur. Di marketplace ini diatur platform. Di website, Anda yang harus menuliskannya dengan jelas.
- Akun payment gateway atas nama usaha Anda. Proses verifikasinya butuh beberapa hari, jadi mulai lebih awal.
- Rencana mendatangkan pengunjung. Siapa yang mengurus Instagram, iklan, atau konten blog? Website tanpa pengunjung hanya brosur yang mahal.
Kalau Anda sedang menimbang vendor, panduan jasa pembuatan website membahas apa yang seharusnya ada di penawaran dan cara mengecek portofolio.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah website toko online pasti lebih murah daripada marketplace?
Per transaksi, ya, karena potongan payment gateway jauh lebih kecil dari biaya admin marketplace. Secara total belum tentu, karena ada biaya pembuatan, perawatan, dan biaya mendatangkan pengunjung.
Bisakah stok di website dan marketplace disinkronkan?
Bisa. Caranya bergantung pada jumlah produk dan marketplace yang dipakai. Untuk toko kecil, mengelola stok dari satu dashboard dan memperbarui marketplace secara berkala sudah cukup.
Apakah pembeli percaya belanja di website toko yang kecil?
Pelanggan yang sudah pernah membeli biasanya percaya. Untuk pembeli baru, bantu dengan informasi kontak yang jelas, alamat usaha, ulasan asli, dan metode pembayaran yang mereka kenal seperti QRIS.
Berapa lama membuat website toko online?
Untuk paket toko online kami, sekitar 4 sampai 6 pekan. Waktu tercepat dicapai kalau foto, deskripsi produk, dan akun payment gateway sudah siap di awal.
Kalau Anda ingin menghitung angka untuk toko Anda sendiri, kirim data kasarnya (harga rata-rata, jumlah pesanan per bulan, kategori produk) lewat halaman kontak. Contoh toko dan marketplace yang pernah kami bangun ada di portofolio, layanan lengkapnya di halaman layanan, dan profil KSATRIA di halaman utama.



